
SINOPSIS
JUDUL NOVEL : SEPASANG MATA MALAIKAT
PENULIS : AMBHITA DHYANINGRUM
PENERBIT : TIGA SERANGKAI
TOKOH : LATIFAH,
RAJENDRA,
HINDUN,
ARDAN,
HAIKAL,
RISMA,
NIKEN,
AGNES.
SEPASANG MATA MALAIKAT
Lebih baik sakit karena mempergunakan kesehatadengan benar daripada sakit karena tidak berbuat apa-apa
(R.L.Stevenson)
Pagi yang cerah. Latifah bangun dengan perasaan ringan. Semalam dia bisa tidur dengan nyenyak, sebelum malam-malam sebelumnya harus tidur sampai larut karena belajar untuk menghadapi ujian. Ia bekerja sebagai junior reporter di majalah Cantik. Ketika latifah akan mengambil air wudu ke kamar mandi, dia melihat bibi Hindun terjatuh di kamar mandi dan tak sadarkan diri, dia segera memberi tahu om Ardhan dan menelpon om Wibowo untuk meminta bantuan dan meminjam mobil om Wibowo untuk mengantarkan bibinya ke rumah sakit. Bibi Hindun harus di rawat di rumah sakit. Dan warung makan milik bibi Hindunpun harus di tutup sampai ia kembali sehat. Selain itu Latifah harus menggantikan tugas bibinya mengurus rumah. Latifahpun baru tahu bagaimana beratnya tugas bibi Hindun setiap hari. Sebelum kedua orang tua Latifah dan Haikal meninggal, hubungan mereka dengan Risma (anak bibi Hindun) sangat akrab, tapi setelah Latifah dan Haikal kehilangan kedua orang tuanya hubungan mereka dengan Risma menjadi tidak akur lagi. Meskipun demikian, Latifah tidak pernah menunjukan kebenciannya kepada Risma di hadapan bibi Hindun.
Dia tidak ingin membuat bibi Hindun sedih. Dia lebih mudah menghadapi bibinya saat marah ketimbang saat sedih. Latifah pernah melakukan suatu kesalahan yang tidak di sengaja. Saat dia bertengkar dengan Risma, bibi Hindun memergoki mereka. Pemicu pertengkaran itu sebenarnya persoalan sepele. Risma masuk ke rumah saat Latifah sedang mengepel lantai. Haikal menepuk bahu Latifah yang tengah duduk melamun di teras depan. Saking lelapnya dalam lamunan, bahkan bunyi kursi roda haikal yang mendekatpun tidak terdengar di telinga Latifah. Sebuah motor berhenti di depan rumah. Risma pulang diantar Thunder si Todi, pacar barunya. Risma turun dari motor melemparkan kiss bye kepada Todi yang kemudian melesat meninggalkan rumah . “Hallo semua, assalamu’alaikum…..”. Latifah dan adiknya bengong sesaat. Karena tidak biasa-biasanya Risma begitu……, ternyata ujung-ujungnya Risma hanya ingin meminjam uang kepada Latifah.
Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemidian mohon ampun kepada Allah , niscahnya dia ia mendapati Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
(QS An-Nisa’:110)
Latifah tersenyum menatap benda mungil yang ada di dalam genggamannya. Bukan sebuah benda mewah di abad ini, tapi sangat istimewa. Karena di peroleh dengan hasil keringat sendiri. Harganya tidak mahal, tetapi nilainya menjadi tak tergantikan. Sebuah handphone alias ponsel. Semua orang memiliki benda itu , tetapi Latifah baru memilikinya hari itu. Tiba-tiba saja ada pesan masuk dari Mb Niken yang menyuruh Latifah untuk segera menyelesaikan membaca novel darinya dan segera juga mengembalikannya.
Karena akan dilakukan wawancara sama penulisnya. Latifahpun berjanji akan menyelesasikan membaca dan mengembalikan kepada Mb Niken dua jam lagi. Latifah meletakkan ponsel di meja dengan hati-hati. Sesaat dia masih sempat memandanginya sambil tersenyum-senyum, lalu ia segera mencari novel dari Mb Niken yang berjudul SEPASANG MATA MALAIKAT . Novel itu begitu kelam bercerita tentang perjalanan kematian seorang laki-laki yang belum lagi uzur, tetapi telah di gerogoti penyakit . Gangguan fungsi ginjal karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol dan penyakit kelamin akibat kehidupan kotor yang di jalaninya di masa lalu. Ironisnya, dia mati bukan karena penyakit-penyakit yang disandangnya tetapi karena ……tertabrak mobil.
Kesenangan terbesar adalah melakukan apa yang menurut orang lain tidak mampu kita lakukan
(Walter Bagehot)
Latifah mulai tertarik dengan Rajendra. Dia tiba-tiba merasa ingin bertemu dengan orang itu. Seperti apasih , sebenarnya penulis yang kini jadi besar namanya itu ????? Latifah membuka-buka kliping yang di berikan Mb Niken . Di dalam map itu ada selembar foto Rajendra. Sepasang matanya begitu dalam, wajahnya tampak keras dengan rahang persegi. Hidungnya tinggi , alisnya bertaut di pangkal hidung, rambutnya ikal menyentuh pundak. Dia tampak gagah , tapi kerutan di keningnya tidak dapat menyembunyikan usianya yang mulai menua. Latifah sampai di radio idola lima menit sebelum acara talk show selesai. Beruntunglah Latifah karena dia tidak perlu menunggu terlalu lama .
Setelah sepuluh menit kemudian Rajendra keluar dari dalam menuju ruang tunggu. Sayangnya beberapa wartawan sudah terlebih dulu mengerubutinya begitu dia keluar dari setudio siaran. Latifah jadi ragu mendekati Rajendra . Tetapi , sebuah kekuatan memaksa dia berdiri dan mendekati Rajendra yang sedang di kerubuti wartawan. Sebuah tepukan di pundak mengagetkannya, ketika latifah menoleh dia menemukan wajah Agnes.” Hai”, sapa Agnes. “Ngejar orang yang sama, nih ???”. Latifah balas senyum. Mereka kemudian asyik kembali dengan pekerjaan mereka. Setelah beberapa kali pertanyaan Latifah tidak di tanggapi, dia langsung memutar otak , dan sebuah pertanyaan menarikpun harus segera di temukan. “Rajendra, apakah anda pernah mati sehingga anda bisa tahu kejadian sesudah kematian ??? “. Suara itu terdengar melengking dan mendiamkan beberapa mulut yang bicara. “Pertanyaan yang menarik, “ Rajendra tersenyum . Latifah merasa senang karena pertanyaannya di dengar. Petugas keamanan radio Idola segera mengawal Rajendra untuk menuju mobilnya. Latifah menarik nafas dan menghempaskan pantatnya di kursi yang ada di teras radio Idola. Agnes mendekatinya . “ Dia makin susah di temui”, ujarnya tiba-tiba. Latifah tertunduk lesu , dan menceritakan semua keluhannya pada Agnes karena dia gagal melaksanakan tugas dari Mb Niken. Agnes menawarkan bantuan kepada Latifah . Dia meminjamkan hasil wawncaranya dengan Rajendra kepada Latifah. Lalu Agnespun mengajak Latifah ke kantin, untuk ngobrol-ngobrol, karena mereka sudah lama tidah bertemu.
Teman sesungguhnya adalah seseorang yang ada di saat kita membutuhkannya
(N.N)
Kini Latifah ada di sebuah coffe shop yang tak jauh dari radio Idola. Dia dan Agnes masing-masing menghadapi secangkir kopi dan snek dalam piring kecil. Agnes bercerita banyak tentang Rajendra kepada Latifah, karena dulu Rajendra pernah bekerja di perusahaan papanya. Latifah berdecak kagum. “ Gimana menurutmu kalau aku menelpon dia sekarang ???” Latifah meminta pertimbangan .” Tentu aja, “ ujar Agnes. Latifahpun langsung menelponnya . Setelah Latifah memperkenalkan dirinya kepada Rajendra , Rajendrapun langsung meminta maaf kepada Latifah, karena tidak bisa memenuhi janjinya, dan diapun meminta Latifah untuk mewawancarainya besok. Sepasang mata Latifah berbinar-binar senang. Agnes menatapnya dengan lega.
Tindakan manusia bisa di modifikasi , tetapi sifat manusia tidak bisa di ubah.
(Abraham Licoln)
Latifah sampai di depan pintu rumah Rajendra tepat pukul sembilan pagi. Rumah itu bukanlah sebuah rumah yang sangat mewah, tetapi arsitekturnya menunjukkan bahwa pemiliknya memiliki selera seni yang bagus. Pagar rumah Rajendra yang tinggi telah terbuka sedikit, seolah memang telah di persiapkan untuk menyambut kedatangan Latifah. Tak berapa lama, kemudian pintu terbuka dan sebuah kepala melongok dari dalam. Rajendra sendiri yang membuka pintu. Latifah tercengang melihat sosok itu.
Dia memakai kemeja panjang berwarna putih bersih dan sarung berwarna merah tua. Rambutnya terikat rapi , dan wajahnya terlihat segar dan bersih. Latifah terpana sesaat. Wajah itu memancarkan cahaya, dan ada rasa damai merayap-rayap di dadanya. Latifah tiba-tiba teringat gambaran Agnes tentang Rajendra. Sinis, kasar dan sselalu meng-under estimate orang lain. Rajendra mengucapkan salam dengan suara yang rendah. Nadanya terdengar santun . “ Assalamu’alaikum…….”. “ Wa’alaikum salam”, sahut latifah, saat melangkah masuk ke dalam rumah . Rajendra mempersilahkan Latifah duduk di sofa ruang tengah . Sesaat kemudian dia meninggalkan Latifah dan pergi ke belakang. “ Sudah mulai nih, wawancaranya ????.” Rajendra tersenyum lebar . “ Ya, begitulah. Saya hidup sendirian. Hanya ada mbok Inah yang selalu membantu saya. Dia lagi masak di dapur “.Ceritapun kemudian bergulir.
Tiap-tiap sesuatu yang berjiwa akan merasakan mati
(QS Ali Imran:185)
Nama asliku adalah Indra Kusuma Rajendra. Aku terlahir dari sebuah keluarga yang menganut paham sekuler. Kami menjalani hidup serba easy going. Kami menikmati hal-hal yang berbau dunia dan tidak pernah mendekatkan diri kepada Tuhan. Semua keluargaku beragama islam , tetapi kami sendiri tak pernah belajar tentang islam. Aku tak pernah diajari untuk melaksanakan sholat sehari lima kali. Orang tuaku sangat sibuk. Aku sesekali melihat mereka sholat, tetapi tidak disetiap waktu yang di tentukan. Terkadang mereka bangun kesiangan dan meninggalkan sholat subuh , kadang tidur sebelum isya karena aktifitas sepanjang siang hingga sore sangat melelahkan. Kehidupan sekulerku itu terbawa hingga dewasa , bahkan aku sampai pernah lupa urut-urutan wudu dan doa iftitah.
Aku suka menulis. Bakat ini menurun dari Ibuku . Namaku kian terkenal sebagai penulis novel. Beberapa novelku diangkat menjadi film layar lebar. Aku sangat bangga dengan keberhasilanku hingga aku menjadi orang yang sangat sombong, aku juga mulai senang bermain-main di dunia malam, bersama teman-temanku. Segala aktifitas malam kulakoni , kesehatankupun mulai menurun. Aku terkena radang paru-paru karena terlalu banyak menghisap rokok, dan terkena udara malam. Otakku mungkin telah beku, karena aku sering mengkonsumsi alkohol dan drugs. Aku jadi tidak produktif lagi . Suatu ketika aku merasa ada yang aneh di dadaku sebelah kiri. Rasanya sakit dan terkadang berdebar-debar keras sekali. Aku memeriksakan diri dan di fonis mengidap penyakit jantung. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit , aku terus berfikir keras. Aku berhenti untuk membeli makanan di sebuah toko roti . Pulsa ponselku habis dan aku harus membelinya di seberang toko roti. Jalanan begitu padat pada pukul dua belas siang, saat istirahat. Aku nekad menyebrang jalan , membelah arus lalu lintas yang begitu ramai. Saat sampai di tengah jalan aku terjebak. Oh, tidak. Maut rasanya sudah begitu dekat. Kepalaku tiba-tiba terasa pening dan mataku berkunang-kunang. Nyeri di dadaku terasa lagi, tak tertahankan . Lalu, kulihat sosok itu. DIA BERJUBAH HITAM, DIA MENATAP KE ARAHKU DENGAN SEPASANG MATA YANG SANGAT TAJAM. Aku ketakutan setengah mati . Dia berdiri di seberang jalan, telapi aku dapat melihatnya. Seakan ia sangat dekat denganku. Kemudian , sosok itu lenyap di gantikan cahaya yang amat menyilaukan . Aku membalikkan badan. Aku memutuskan untuk kembali saja ke toko roti, dan mengambil mobilku lalu pulang. Namun , ternyata ……sosok berjubah hitam itu sudah berdiri di sana, di dekat mobilku. Dia menatapku dengan pandangan yang menbuat nyaliku ciut. Aku berbalik lagi, dan lari kesadaranku goyah. Aku lupa bahwa aku berada di tengah jalan dengan lalu lintas yang begitu padat.
Suara decit ban-ban mobil terdengar, klakson-klakson berbunyi begitu keras dan panjang. Lalu sesuatu yang keras menghantamku dari samping, membuatku benar-benar kehilangan kesadaran. Merah, hitam, dan pekat namun tiba-tiba semuanya menjadi putih. Serupa kabut. Aku melihat diriku meninggalkan ragaku yang tergeletak bersimpah darah di tengah jalan. Lalu lintas sesaat kacau dengan adanya kecelakaan itu. Sirene polisi terdengar meraung-raung memenuhi udara. Kekacauan, lagi-lagi aku menimbulkan kekacauan. Aku merasa diriku begitu ringan , seperti asap yang membumbung kian tinggi, berbaur dengan warna putih awan di langit. Berbaur dengan semesta. Mengapung di udara. Lalu , aku melihat orang-orang yang dekat dengan kehidupanku menangisi kematianku. Aku sedang dalam perjalananku menuju alam kematian. Ibuku adalah orang yang menangis paling sedih. Dialah satu-satunya perempuan yang paham tentang diriku. Yang mencintaiku dan yang tidak menuntut seseastu atas rasa cintanya. Lalu , ayahku laki-laki yang menjadi figur asing dalam kehidupanku. Dia tak dapat mengeluarkan air mata, tetapi aku tahu hatinya terluka begitu dalam karena kematianku. Lalu dua saudara laki-lakiku, teman-teman kantorku, senimanku, dan perempuanku . Aku tersenyum melihat pemandangan itu. Lalu tiba-tiba tubuhku seperti ditarik dan pergi meninggalkan tempat itu. Kian jauh dan kian jauh…….,, lagi-lagi putih. Aku seperti terbang melalui lorong-lorong yang di dapati dengan gumpalan awan putih yang begitu pekat. Lalu aku sampai di sebuah padang yang sangat luas. Cepat sekali aku bergerak, ringan seperti kapas. Sebuah cahaya putih menyelimutiku dan membawaku kian jauh. Aku melihat kilasan-kilasan peristiwa. Cepat sekali, tetapi aku mengenali kalau itu adalah kejadian yang pernah kualami selama hidupku di dunia.
Mulai dari perbuatan baik, hingga perbuatan-perbuatan buruk yang pernah kulakukan di dunia. Kemudian kilasan-kilasan itu melambat dan jelas seperti adegan yang terpenggal-penggal. Akupun di bawa lagi, melesat lalu kami melambat di suatu tempat. Aku mendengar suara-suara semula seperti bisikan-bisikan , kian lama kian keras dan aku mulai bisa mengenali suara apa itu. Erangan dan rintihan, desis-desis kesakitan yang membuat hati menjadi menyayat dan terasa ngilu. Kembali ku lihat kilasan-kilasan peristiwa . Oh, tidak……, kali ini bukan tentang aku . tetapi satu dua ada kerabatku. Mereka sedang di siksa . aku ingin memalingkan wajahku, tetapi tak sedikitpun aku mampu memalingkan wajah dari sana. Ah, apalagi ini ???? aku rupanya melihat orang mati itu tengah mendapatkan ganjaran atas perbuatannya mereka di dunia. Sebuah ketakutan yang amat besar tiba-tiba menarik diriku dari sana , mendorong kuat-kuat tubuhku. Sebelum semuanya terjadi , kudengar sebuah suara yang mengatakan bahwa aku belum di takdirkan. Lalu aku rasakan tubuhku terdorong keras , seperti melalui lorong-lorong yang kulalui sebelumnya, begitu cepat, membuat diriku layaknya serpihan avokad dalam blender, berpusing-pusing melalui lorong yang begitu panjang. Lalu terhempas. Ya, aku kembali. Ku dengar isak tangis berubah menjadi jeritan di sana-sini. Ku lihat Ibuku pingsan dan Ayahku ternganga. Ku lihat orang-orang ketakutan beberapa orang kulihat berlari keluar tetapi sebagian mereka mendekat. Di manakah aku ???? kenapa aku ……….
Kulihat sekujur diriku
Mengapa aku berkafan ????
Sesungguhnya tobat disisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan kemudian mereka bertobat dengan segera
(QS An-Nisa’:17)
Setelah kejadian itu Rajendra ingin sekali menjadi manusia baru, mengubah hidupnya dan memperbaiki semuanya. Sampai pada akhirnya takdirnya tiba. Rajendra sekarang sudah tergeletak koma di ruang ICU. Kematian pasti datang , tapi wajib bagi kita untuk menjaga hidup sebelum Tuhan berkenan mengambilnya. Latifah memejamkan mata . Hatinya berdoa agar tidurnya di beri keselamatan hingga esok hari. Ia masih ingin jumpa dengan aroma subuh , ia masih ingin bertemu hangat matahari. Ia masih ingin bertemu dengan orang-orang yang di sayanginya.
Waktu menjelang subuh, matahari kau sepuh
Kujulurkan kakiku di jalanmu yang dingin
Penuh cahaya dan kasih sayang
Sekarang atau besok
Aku akan melihat wajahmu juga
Dan kenapa aku tidak berangkat
Pagi-pagi benar, biar datangku agak duluan
(Sebuah sajak karya Danarto dalam cerpennya tentang rintrik yang buta)
Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya
(QS Thaha:130)